Perihal Memberi dan Mencuri

Khaled Hossaini dalam novelnya The Kite Runner bicara soal pencurian, dimana pencurian adalah dasar dari dosa-dosa lainnya.

Ketika engkau berbohong, maka engkau mencuri kebenaran dari seseorang. Ketika kau membunuh seseorang, maka mungkin engkau telah mencuri sosok ayah dari seorang anak. Ketika kau mengganggu orang, maka engkau telah mencuri ketenangan hidup seseorang.

Sekarang, mari bicara soal ketidakadilan. Ketika kita menindas orang lain, maka kita telah mencuri kebebasan seseorang. Dan mungkin, ketika kita mulai menghakimi orang lain dengan prasangka, lalu memaksakan orang lain untuk mengikuti apa yang kita percaya kita telah mencuri keadilan darinya.

Yang lebih parah? Bisa jadi kita telah mencuri kasih Tuhan lewat perbuatan semena-mena kita dengan mengatasnamakan nama dan hukum-Nya. Alih-alih mendekat kepada Tuhan, orang malah menjadi muak dan takut karena perbuatan kita.

Lawan dari mencuri adalah memberi. Dengan tersenyum kita bisa memberi sedikit kebahagiaan kepada orang lain. Dengan bersabar kita bisa memberi kesempatan untuk hidup yang lebih baik bagi orang lain. Dengan sebuah gurauan, kita bisa memberi tawa untuk orang lain.

Yang lebih baik? Dengan memahami keadaan dan merangkul orang lain, bisa jadi kita memberi jalan hidayah kepada orang lain.

Pepatah bilang, tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta). Apalagi daripada tangan di belakang (mencuri). Rasul juga bilang, manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Sekarang, terserah kepada kita. Apakah kita mau memberi, atau mencuri?