Jalan Tidak Terduga

Saya nggak pernah ada niat kuliah HI, dulu maunya sosiologi atau ilmu politik. Tapi almarhum bapak tetep dorong untuk coba aja untuk masukkan HI di pilihan UM UGM, dan nggak ada yang nyangka kalo beneran bisa dapet.

Selama kuliah, usahanya setengah-setengah. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk organisasi, coba-coba dagang fotokopian untuk nambah uang jajan. Nilai A cuma bisa dihitung jari, sama kayak absen yang banyakan minta titip absen atau tandatangan habis dosennya keluar.

Tiba-tiba nasib bicara lain. Saya direkrut jadi desainer grafis untuk laboratorium jurusan dan ketemu sama senior-senior dan dosen-dosen, kerja bareng mereka dan banyak menghabiskan waktu bareng mereka. Walaupun saya mahasiswa kelas menengah kesamping dengan prestasi medioker, mas dan mbak di foto ini selalu mendorong saya untuk taruh sedikit niat di studi saya dan nggak pernah melihat saya sebelah mata. Mereka tahu kalau bidang akademik bukan bidang saya, tapi toh saya tetap diajak dan dirangkul untuk kontribusi di bidang akademik dengan cara saya sendiri.

Setelah 7 tahun yang mengesalkan buat banyak orang (karena saya ndablek), akhirnya saya lulus dengan predikat biasa-biasa saja, jauh dari cumlaude. Tapi selama 7 tahun itu saya diberi kesempatan untuk menjelajahi minat dan bakat saya di Institute of International Studies dan ASEAN Studies Center Universitas Gadjah Mada. Saya diajak mbak Atin untuk ikut riset walaupun tidak pintar menulis, saya dipercaya untuk mengelola brand dan media sama mas Randy, selalu dimaafkan sama mbak Ezka dan dikritisi sama mbak Diah Didi. Sampai pada tahun 2017 saya memutuskan untuk hengkang dan memanfaatkan pelajaran dari orang-orang di foto ini, lalu membuat usaha saya sendiri.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, termasuk Abie Zaidannas dan Atin Prabandari, orang tersenyum, orang duduk dan orang makan

Jujur, saya nggak pernah menyangka akan punya hubungan sedekat ini dengan mentor-mentor saya, terlebih sama dosen. Saya pikir, sudah selesai kuliah, lulus, lalu sudah. Apalagi jalan yang saya ambil beda jauh dari jalan mereka. Tapi saya beruntung sekali bisa punya orang-orang yang bisa saya kontak kapanpun ketika saya bingung atau tersesat jalan. Kadangkala malah saya lagi nggak merasa nyasar tapi masih sering diingatkan dan ditegur kalau memang lagi nyeleneh.

Well, saya rasa apa yang mau saya sampaikan di tulisan ini cuma rasa syukur atas jalan nggak terduga yang saya lalui di HI UGM yang nggak lepas sampai sekarang 🙂