Jalan Tidak Terduga

Saya nggak pernah ada niat kuliah HI, dulu maunya sosiologi atau ilmu politik. Tapi almarhum bapak tetep dorong untuk coba aja untuk masukkan HI di pilihan UM UGM, dan nggak ada yang nyangka kalo beneran bisa dapet.

Selama kuliah, usahanya setengah-setengah. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk organisasi, coba-coba dagang fotokopian untuk nambah uang jajan. Nilai A cuma bisa dihitung jari, sama kayak absen yang banyakan minta titip absen atau tandatangan habis dosennya keluar.

Tiba-tiba nasib bicara lain. Saya direkrut jadi desainer grafis untuk laboratorium jurusan dan ketemu sama senior-senior dan dosen-dosen, kerja bareng mereka dan banyak menghabiskan waktu bareng mereka. Walaupun saya mahasiswa kelas menengah kesamping dengan prestasi medioker, mas dan mbak di foto ini selalu mendorong saya untuk taruh sedikit niat di studi saya dan nggak pernah melihat saya sebelah mata. Mereka tahu kalau bidang akademik bukan bidang saya, tapi toh saya tetap diajak dan dirangkul untuk kontribusi di bidang akademik dengan cara saya sendiri.

Setelah 7 tahun yang mengesalkan buat banyak orang (karena saya ndablek), akhirnya saya lulus dengan predikat biasa-biasa saja, jauh dari cumlaude. Tapi selama 7 tahun itu saya diberi kesempatan untuk menjelajahi minat dan bakat saya di Institute of International Studies dan ASEAN Studies Center Universitas Gadjah Mada. Saya diajak mbak Atin untuk ikut riset walaupun tidak pintar menulis, saya dipercaya untuk mengelola brand dan media sama mas Randy, selalu dimaafkan sama mbak Ezka dan dikritisi sama mbak Diah Didi. Sampai pada tahun 2017 saya memutuskan untuk hengkang dan memanfaatkan pelajaran dari orang-orang di foto ini, lalu membuat usaha saya sendiri.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, termasuk Abie Zaidannas dan Atin Prabandari, orang tersenyum, orang duduk dan orang makan

Jujur, saya nggak pernah menyangka akan punya hubungan sedekat ini dengan mentor-mentor saya, terlebih sama dosen. Saya pikir, sudah selesai kuliah, lulus, lalu sudah. Apalagi jalan yang saya ambil beda jauh dari jalan mereka. Tapi saya beruntung sekali bisa punya orang-orang yang bisa saya kontak kapanpun ketika saya bingung atau tersesat jalan. Kadangkala malah saya lagi nggak merasa nyasar tapi masih sering diingatkan dan ditegur kalau memang lagi nyeleneh.

Well, saya rasa apa yang mau saya sampaikan di tulisan ini cuma rasa syukur atas jalan nggak terduga yang saya lalui di HI UGM yang nggak lepas sampai sekarang 🙂

Keluarga pak Lukman

Kemarin siang saya dikirimkan foto ini sama mbak Indah Nurdini. Ini foto keluarga tetangga saya (Keluarga pak Lukman), saya ikutan numpang foto dengan wajah tengil di atas motor yang harus bayar pajak bulan Oktober tahun 1998.
 
Nah, keluarga tetangga saya ini jadi keluarga paling istimewa se-komplek PU Pasar Jumat, terutama waktu saya kecil. Waktu kecil, saya sering sekali main dan menghabiskan waktu sama uda-uda dan mbak-mbak dari keluarga pak Lukman ini. Anak-anak pak Lukman punya banyak buku komik yang sering saya pinjam dan saya baca ditempat. Keluarga ini jadi salah satu penyebab kenapa saya sangat suka dengan buku dan punya andil besar dalam tumbuhnya minat baca saya. Kebiasaan baik yang tidak pernah lepas hingga saat ini.
 
Oh iya, anak-anak pak Lukman yang banyak ini semua pintar-pintar dan cerdas-cerdas, sekolah di sekolah paling top di Jakarta. Alhamdulillah, saya ‘ketularan’ kebiasaan membaca dan belajar dari uda-uda dan mbak-mbak putra-putri pak Lukman. Saya juga sering dikirimi rendang atau roti buatan Bude Lukman yang waktu dimasak wanginya bisa menggoda iman tetangga satu blok.
 
Saya juga mengenal komputer dari keluarga beliau, saya suka sekali main game-game komputer di komputer dengan OS MS Windows 98 di komputer keluarga ini, seringkali sampai malas pulang. Boleh dibilang, putra-putri pak Lukman jadi role model saya waktu itu.
 
Sekarang, walaupun keluarga pak Lukman tidak tinggal dekat dengan rumah lagi, tapi Ibu saya masih berhubungan baik dengan keluarga beliau. Beliau juga seringkali membantu keluarga kami di banyak hal.
 
Terima kasih keluarga pak Lukman! 🙂

Cadar

Pekan lalu, sebagaimana rutin dilakukan saya diminta tolong untuk hadir dan membantu proses interview untuk calon relawan baru di Project Child. Saya sudah beberapa kali kesempatan tidak dapat hadir dalam kegiatan interview untuk calon relawan atau staf magang karena satu dan lain hal, jadi ini adalah salah satu wawancara pertama saya setelah beberapa bulan absen mewawancarai orang. Jujur, setelah lama tidak mewawancara orang, saya merasa tidak se-greget biasanya dalam wawancara ini, atau mungkin karena saya yang baru tidur empat jam malam sebelumnya. Entahlah.

– – –

Sebelum saya kembali lagi ke wawancara tempo hari, beberapa hari ini timeline media sosial saya diramaikan oleh berita tentang keputusan UIN Yogyakarta yang akan melakukan ‘pembinaan’ terhadap mereka yang menggunakan cadar/niqab. Saya agak heran karena saya kira wajar-wajar saja untuk mahasiswi di universitas Islam untuk dapat menggunakan cadar/niqab.

Saya jadi takjub karena universitas melarang mahasiswanya untuk menggunakan cadar/niqab karena pertama, UIN Yogyakarta adalah universitas Islam, maka wajar jika orang-orang di dalamnya punya interpretasi khusus tentang cara berpakaian menurut Islam. Kedua, karena lembaga akademik tidak seharusnya menjadi tempat menghakimi preferensi dan keyakinan seseorang, lembaga akademik seperti universitas semestinya bisa jadi tempat terbuka dimana setiap perbedaan bisa dihargai selama tidak mengganggu hak orang lain.

Ketiga, dan yang paling penting, setiap orang berhak menjalankan dan mengekspresikan keyakinannya. Mengutip pak Abdul Gaffar Karim, wajar jika kampus mengatur standar berpakaian seperti melarang penggunaan kaus dan sandal jepit, tapi penggunaan kaus dan sandal jepit bukanlah ekspresi keyakinan keagamaan. Jilbab, cadar/niqab, surban (untuk penganut agama Sikh), kalung salib, rosario, peci dan aksesoris keagamaan lainnya adalah bentuk ekspresi keagamaan yang untuk beberapa penganut agama menjadi bagian penting dari cara mereka menjalankan keyakinannya. Satu catatan penting di sini, kita tidak sedang menghormati cadar/niqab sebagai aksesori ekspresi keagamaan, tapi kita perlu menghormati hak dasar orang untuk menganut praktik keagamaan tertentu, terlepas dari apa yang kita yakini.

– – –

Kembali lagi ke wawancara kami tempo hari.

Suatu ketika di tengah wawancara, datanglah seorang perempuan menggunakan cadar/niqab. Ini hal baru untuk orang-orang di kantor kami. Walaupun lingkungan kerja kami sangat beragam dan terdiri dari orang-orang yang punya latar belakang berbedamulai dari sajadah sampai haram-jadah—dari dokter sampai pengangguran akut, ini kali pertama kami sebagai institusi menerima orang dengan cadar/niqab. Terlebih, sebagian dari kami cukup jauh atau tidak pernah punya pengalaman personal dengan orang yang memilih untuk bercadar/berniqab.

Jujur, waktu itu saya sempat gumun. Terlebih teman-teman meminta saya untuk mewawancarainya secara langsung.  Singkat cerita saya masih gumun saat wawancara, saya masih berfokus pada perbedaan atara dia dan saya, saya membuat border di kepala saya bahwa saya dan dia adalah orang yang berbeda. Hinga suatu saat saya menanyakan pertanyaan yang selalu saya tanyakan ketika wawancara: “ceritain tentang sahabat-sahabat kamu dong”. Dia mulai bercerita tentang sahabat-sahabatnya dengan mata berbinar-binar (hanya itu yang bisa saya lihat :p). Saat itu saya sadar, bahwa baru saat itu saya melihatnya sebagai manusia seperti saya. Lalu wawancara berjalan lancar, mengalir dan begitu menyenangkan.

Di satu bagian wawancara, saya bertanya padanya “kamu pernah mengalami diskriminasi karena keputusanmu memakai niqab nggak sih?. Berceritalah dia tentang tatapan aneh orang-orang ketika ia masuk ke tempat umum, pengalamannya dicibir oleh anggota keluarganya hingga kejadian waktu ia disebut dengan kata “ISIS” oleh orang random yang tidak mengenalnya. Ternyata di balik niqabnya, orang ini adalah orang yang berpikiran sangat terbuka, bahkan lebih terbuka daripada beberapa orang ‘yang mengaku liberal’ yang saya kenal.

– – –

Kembali lagi soal cadar/niqab dan menutup tulisan ini.

Seringkali kita terjebak dengan border yang kita buat sendiri. Kita terjebak dengan asumsi tentang orang lain akibat satu identitas yang bisa kita lihat dengan mata. Ketika kita melihat seseorang yang menenggak minuman keras, identitasnya tereduksi menjadi satu kata: pemabuk. Kita cenderung melihat orang dengan batasan tertentu, seringkali mereduksi identitasnya menjadi satu identitas. Terkadang kita lupa bahwa semua orang punya banyak identitas. Seorang Muslim bisa jadi menjadi seorang sosialis atau liberal, bisa jadi menjadi seorang konservatif, bisa jadi ia menyukai musik klasik dan gemar makan sate. Bisa jadi juga seorang Ateis mengidentifikasi diri sebagai seorang liberal konsevatif, menyukai dangdut dan sama-sama suka sate.

Sebelum saya berbicara dengan seseorang yang menggunakan cadar/niqab saya berangkat dengan asumsi-asumsi tertentu yang ada di kepala saya dan mereduksi identitas penggunanya menjadi identitas tertentu (yang negatif atau positif) seperti ‘konservatif’, ‘devout‘, ‘kaku’ atau ‘tidak toleran’. Saya lupa kalau dia punya identitas lain, seorang anak, seorang mahasiswa, saudara sebangsa dan identitas-identitas lainnya.

Kembali mengutip dari pak Gaffar:

Anda tak perlu menghormati cadarnya. Tapi hormati saja hak dasar setiap orang untuk memiliki keyakinan keagamaan tertentu — yang mungkin berbeda dari apa yang Anda yakini.

Yogyakarta, 8 Maret 2018

Mbah Biyung

Ini foto nenek saya bersama sepupu saya sekitar dua puluh tahun yang lalu di Kebumen, Jawa Tengah. Tiba-tiba lewat di fitur “On This Day” Facebook hari ini. Memanggil rasa rindu saya kepada nenek yang biasa kami panggil “Mbah Biyung”.

Sejak saya kecil, Mbah Biyung sering sekali datang ke rumah dan membantu ibu saya mengurus saya karena ibu saya melahirkan adik saya ketika saya berusia satu tahun. Ada banyak foto di rumah (hasil jepretan bapak) yang memperlihatkan beliau sedang menggendong saya dengan kain batik, terkadang menaruh kepala saya di antara ketiaknya supaya saya merasa hangat.

Mbah Biyung merupakan salah satu contoh manusia yang paling lembut yang pernah saya kenal. Saya masih ingat (walaupun tidak ingat persis) cerita beliau tentang Anak Gajah yang dituturkan dengan bahasa Jawa yang kerap beliau ceritakan sebelum saya tidur. Beliau biasanya tersenyum manis jika saya yang cerewet ini mulai bermonolog di depannya, sembari merespon dengan sabar. Sampai akhir hayatnya, saya tidak pernah mendengar beliau berkata kasar, mengkritisi orang atau mengeluarkan kebencian. Cara beliau menyampaikan nasihat pun sangat menyenangkan hati.

Beliau wafat ketika saya ada di bangku SMA. Beruntung kami sekeluarga sempat pergi ke Kebumen untuk menghabiskan hari-hari terakhir beliau. Di hari-hari terakhirnya, beliau tidak dapat melihat akibat penyakitnya. Beliau kerap kali meraba-raba wajah cucu-cucunya sambil memanggil-manggil nama kami “ini Abie ya? Masih sering jualan pensil ke teman-temannya?”. Beliau ingat hal-hal kecil dari kami.

Di malam terakhir beliau, saya ingat ketika saya tidur di rumah budhe saya, bapak membangunkan saya sekitar jam 2 malam dan memberitahukan saya bahwa Mbah Biyung telah berpulang. Saya ingat bersama mas Aris saya ditugaskan ikut membeli kain kafan untuk beliau, pakaian terakhirnya untuk menghadap Yang Mahakuasa. Esok harinya kami sekeluarga mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman samping masjid dekat rumahnya.

Beliau adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dalam masa kecil saya. Sekarang, mengingat beliau dalam perspektif orang dewasa, saya melihat beberapa hal luar biasa dari beliau sebagai seorang manusia dan seorang ibu yang perlu dipelajari dan ditiru. Tidak pernah sekalipun dari beliau saya mendengar atau bahkan mendapatkan kesan tentang kebencian. Sebagai ibu dari 13 anak, beliau punya begitu banyak kasih dan sayang yang tiada habisnya.

Beliau hidup sebagai manusia seutuhnya dan kembali kepada Yang Mahakuasa sebagai manusia yang paripurna. Mencintai dan dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.

Alfatihah.

Kabar

 

WhatsApp Image 2018-02-08 at 19.51.11

Circa October 2017 – Pacitan, Jawa Timur

 

Sudah hampir setahun sejak saya terakhir menulis di blog ini. Blog ini nyaris tanpa kabar walaupun ada banyak hal terjadi dalam setahun terakhir *duh*.

Juggling di antara 3 pekerjaan dan peran sosial lainnya nampaknya bukan jalan hidup manusia normal. Sekarang saya jarang sekali punya waktu untuk duduk merenung, lebih-lebih untuk menulis. Jogja yang kalem dan santai jadi serba menuntut ini-itu. Bukan salah Jogjanya, tapi salah sayanya yang kelewat ‘serakah’ dengan ini-itu.

Semoga saya masih punya waktu untuk menulis lagi dalam waktu dekat.

Jogja. 8.2.18

Sahabat Kecil

Ini dua sahabat kecil saya, Adhytia Angga Syaputra yang paling loyal dan Zainudin Zuhri (Ari) yang baru saja melepas lajang. Setelah sekitar 20 tahun kami berteman, akhirnya kami punya foto bertiga.

Ari sekarang sudah jadi seorang suami, dan insya Allah dalam waktu dekat akan jadi calon Ayah. Dia paling berani di antara kita bertiga untuk ambil keputusan menanggung hidup orang lain. Angga baru saja lulus kuliah, siap menerima tantangan hidup yang baru. Mereka berdua tetap tinggal di Jakarta, menjaga Pasar Jumat, menjaga kenangan masa kecil kami bertiga dulu, walaupun tanah-tanah kosong tempat kami bermain dulu sudah disulap jadi gedung kantor atau pertokoan. Saya ambil jalan yang lebih pengecut, kabur dari Jakarta untuk menggemukkan badan di Jogja.

Masa kecil kami (khususnya masa kecil kedua teman saya ini) sangat berkesan. Kami berlumur tanah, penuh luka di kaki dan tangan kami (Ari punya jahitan karena jatuh dari sepeda, Angga juga punya karena jatuh dari pohon), kami (kecuali Ari) punya kulit gelap terbakar matahari. Kami belajar mengaji dari guru yang sama, tidak diajari membenci siapapun, bahkan Yahudi, kami diajari baca Quran dan menjadi orang yang baik untuk sesama. Kami sekolah di SD yang sama, menertawakan guru yang sama pula. Kami sama-sama tinggal di rumah susun, biasa naik turun bus kota.

Kami (setidaknya saya dan Angga, Ari seringkali jadi korban) selalu ingin punya lahan untuk ditanami. Dulu kami menanam pare, singkong atau apapun yang mudah ditanam di tanah kosong di sekitar rumah kami. Kami sangat naif dulu, kami kira tanah kosong itu bisa kami manfaatkan. Sekarang kami takut tidak bisa beli tanah untuuk rumah.

Sudah tujuh tahun saya merantau ke Yogyakarta, buat saya yang jarang pulang ke rumah, Jakarta makin asing tiap harinya. Tanah kosong di sebelah Stadion berubah jadi apartemen, tanah kosong di sebelah SD kami berubah jadi pusat perbelanjaan. Beberapa tahun kemudian stadion tempat kami latihan Taekwondo dulu berubah jadi stasiun MRT. Jakarta makin asing, makin tidak saya kenali. Tapi, selama saya bertemu kedua sahabat saya ini, Jakarta berubah jadi Jakarta yang bersahabat, seperti waktu dulu kami kecil.

– – –

Dari sekian banyak yang harus disyukuri hari ini, bolehlah saya bersyukur mempunyai mereka di masa kecil saya, sampai kapanpun

Hantu

wpid-p_20150928_161332_hdr_1.jpg

Hari ini saya dan beberapa kawan yang juga mahasiswa Hubungan Internasional pergi ke FKY 28. Sesampainya di sana kami ditawari untuk masuk ke tempat yang bernama “Bilik Sastra”. Yang disebut sebagai bilik sastra adalah sebuah ruang bertikar dengan sebuah kursi yang dilengkapi dengan mikrofon dan pengeras suara di mana seorang pembaca duduk di kursi dan membacakan karya-karya sastra kepada audiens-nya yang duduk di atas tikar yang dikelilingi kain kanvas.

Sang pembaca, saya lupa namanya, membacakan sebuah cerpen karya Umar Kayam yang berjudul “Lebaran Di Karet, Di Karet”. Cerpen tersebut menceritakan kisah seorang diplomat Deparlu (Kementerian Luar Negeri, Zaman Orde Baru) bernama Is yang tinggal di rumah besarnya pasca ditinggal meninggal Istrinya, Rani. Keduanya bertugas di New York sebagai utusan Indonesia di UN Headquarters.

Is mengutuki anak-anaknya yang hanya mengirimkan selembar kartu pos dengan satu-dua baris kata yang intinya menyampaikan bahwa mereka tidak bisa pulang karena sibuk dengan hidupnya masing-masing. Tinggallah Is, sendirian di rumah besarnya di waktu Lebaran, tanpa ditemani siapapun. Pergilah Ia mengendarai Toyota mobil dinas Deparlu ke pemakaman Karet, pemakaman paling terkenal di Jakarta, tempat istrinya ingin dimakamkan.

Sebuah kebetulan yang menyeramkan, empat orang anak rantau secara tidak sengaja masuk ke bilik sastra yang bercerita tentang kisah hidup seorang Diplomat, sebuah profesi yang sangat erat dengan studi sehari-hari kami. Dari sekian banyak bilik dan sekian banyak pembaca sastra, kami harus duduk dan mendengar cerita pedih sisi lain dari kesuksesan yang didamba-damba teman-teman kami.

Perjalanan kami malam ini ditutup oleh segelas teh tarik hingga lewat tengah malam, ditemani obrolan-obrolan ngalor-ngidul soal hantu hingga soal Pulau Buru. Tapi satu hantu yang menemani saya hingga di rumah malam ini: hantu tentang masa depan saya yang mungkin tak jauh dari kehidupan pak Is, dan hantu Ayah saya almarhum yang mungkin (semoga tidak) mengutuki anaknya yang satu ini, yang jarang pulang ke rumah karena kelewat sibuk mengurusi pohon hidupnya sendiri.

Minggu depan saya harus pulang ke Jakarta, bertemu ibu 🙂

Yogyakarta, 4 September 2016

Tentang Jakarta

wpid-p_20151015_171938_1.jpg

Atas ‘kebaikan hati’ kantor tempat gue kerja, gue dikirim ke Jakarta buat dateng ke undangan seminar dari CSEAS yang bahas tentang ASEAN Economic Community, topik yang dekat tapi jauh dari studi gue. Berhubung ada libur Satu Syuro (1 Muharram) gue dengan senang hati ambil kesempatan itu sambil membayangkan panas dan macetnya Jakarta, lebih-lebih karena pembangunan MRT persis ada di depan komplek rumah gue. Akhirnya sampailah gue di Rumah, dalam artian tempat semua keluarga gue tinggal, dengan segala tetek-bengeknya.

Yak, akhirnya gue balik lagi jadi warga ibukota. Berangkat jam 6 pagi dari rumah untuk acara jam 9 di Grand Hyatt, ditambah salah ambil bis dan nyasar ke Kuningan karena gue main masuk aja ke bis yang lewat di halte busway. Dateng kecepetan setengah jam, karena ternyata kendaraan umum di Jakarta lebih bisa diandalkan daripada dulu, sebelum gue pindah ke Jogja, thanks to Ahok dan Jokowi. Datanglah gue ke acara seminar yang gue kira layout ruangnya adalah classroom, ternyata layoutnya adalah roundtable. Acara bakal jalan seharian, sampe jam 17.00 di Hyatt isinya komunitas diplomatik plus akademisi kawakan, sementara gue mahasiswa tua yang skripsi aja belom kelar. Jiper lah gue. Duduk semeja sama Dekan FE UAI, dosen Paramadina dan UNPAD, jurnalis senior ANTARA dan staf kedutaan Australia dan Kanada. Waktu coffee break yang 3 kali gue selalu ditanya “ngajar apa di UGM?”mungkin karena muka gue tua. Dan mereka langsung ngasih respon “ooh, masih kuliah S2 apa S3?” waktu gue bilang “saya masih kuliah, saya staf mahasiswa”, dan dilanjutkan dengan raut wajah yang gue gak tau apa maksudnya.

Pulang acara, gue langsung mampir ke kantor Kementerian PU & Perumahan Rakyat buat ketemu si Dilla yang sekarang kerja di sana. Sebelum ke kantornya Dilla, gue mampir dulu ke masjid Al Azhar, yang terakhir kali gue ke sana waktu SD bareng almarhum bokap. Kantor PU berubah banyak, tapi satu yang nggak berubah: bau rokok di lobby dan lorong-lorongnya. Sekarang makin banyak orang muda yang kerja di PU *ya iyalah*. Jadilah gue menghabiskan setengah malem cerita sama Dilla yang nangis sesenggukan pas diceritain perkembangan Project Child. Dia kangen banget sama kegiatan-kegiatan sosial semacam itu. Kita makan sampe malem, ngobrol banyak hal! Ditutup dengan pulang sambil nyobain naik Gojek.

Gue lahir di Jakarta dan hidup 18 taun di sana. Semenjak 5 taun terakhir gue terlelap dalam kehidupan damai nan lambat di Jogja. Semenjak pindah, gue selalu gak merasa ada di rumah kalo di Jakarta. Mungkin karena kalo gue pulang, gue lebih banyak untuk urusan santai banget, atau kerjaan banget. Tapi hari ini gue merasa ada di rumah lagi. Entah kenapa gue gak melihat Jakarta sebagai momok membosankan seperti yang gue bayangkan selama di Jogja. Hidup yang serba cepat dan dinamis hari ini, dan diakhiri dengan obrolan bareng sahabat bikin gue inget sama jaman dulu SMA.

Akhirnya, gue membuka kembali opsi untuk balik ke Jakarta lagi suatu saat. Mungkin balik jadi warganya suatu saat nanti. Siapa tahu?

Monyet-Monyet Kecil

Alkisah di negeri antah berantah, dibangunlah sebuah sekolah untuk monyet-monyet kecil, setidaknya begitulah si pembuat sekolah menyebut anak-anak yang belajar disana. Entah, apakah kata ‘belajar’ cocok untuk menggambarkan keriuhan di sekolah berbentuk bulat tersebut. Yang pasti, sekolah ini bukan sekolah biasa karena ada tiga hal yang tidak dimiliki sekolah lainnya: 1) Kepala sekolah yang visioner; 2) Arsitek yang jenius; dan 3) Sistem yang memungkinkan kedua faktor pertama bertemu dan melebur menjadikan sekolah ini luar biasa.

Selamat menikmati 🙂

[ted id=2232 lang=en]

Karena Sahabat Saya Hebat-Hebat

Tadi malam saya pergi makan dengan seorang junior, sembari menunggu jam pertemuan dengan Mas Agus, sementara grup WhatsApp ‘Buhulkatze’ agak ramai. Pasalnya Fara baru saja pergi meninggalkan kami (bukan meninggal) untuk pengabdian di pesantren sebagai konsekuensi buat dia yang makan uang beasiswa dari Kementerian Agama.  Singkat cerita, Fara habis kami bully dan saya diomeli oleh ibu-ibu penghuni grup karena candaan saya yang terlalu tinggi level saru-nya (ini opini mereka lho, menurut saya sih gak masalah).

image

Di warung nasi goreng Pasar Kranggan yang dingin akibat gerimis itu tiba-tiba saya teringat pertanyaan Bara waktu saya antar ke bandara pekan lalu: “gimana sih ceritanya kita bisa temenan terus jadi ‘geng’ macam gini?”. Usut punya usut si Bara dapat pertanyaan di Ask.fm nya yang intinya tidak jauh beda dari pertanyaan Bara malam itu. Bara sudah jawab dengan jawaban versi-nya (yang menurut Felix kelewat bagus, yang ujung-ujungnya bikin Felix jadi gak enak hati) dan sekarang saya mau jawab pertanyaan yang gak ditanyakan ke saya itu dengan versi sendiri.

– – – –

Mari kita mulai dengan sebuah pernyataan kalau persahabatan itu sesuatu yang alami dan tumbuh seiring dengan jalannya waktu. Maka karena itu sulit untuk menetapkan kapan tepatnya waktu kami mulai bersahabat. Soalnya kami berasal dari tempat yang berbeda-beda, dan dari latar belakang berbeda beda. Meminjam analogi-nya si Robie, kami ini ibarat hidangan di meja makan, berbeda-beda tapi saling melengkapi. Ibarat nasi dari beras Cianjur, bertemu ikan asin dari Cilacap, ditambah sambel terasi dari Cirebon dilengkapi sama segelas kopi dari Makassar. Kurang enak rasanya jika dinikmati secara terpisah.

16386587485_7c1ef2ff74_k

Hadza dan Nyai

Orang pertama yang saya kenal di lingkaran persahabatan ini adalah Hadza (alias Haja, alias Joha, alias Nasrudin). Hadza adalah anak HI pertama yang saya add Facebook-nya karena sama-sama Tarbiyah. Saya masih ingat chat Facebook pertama kami, masih pake ‘ane-ente’ buat nego soal kos-kosan, yang pada akhirnya kami ‘tersesat’ bersama di banyak organisasi, mulai liqo-an, Komahi, Dema Fisipol sampai dalam beberapa kesempatan Hadza saya seret ke kegiatan politik FLP. Kalau katanya Bara pekan lalu, ‘kita tinggal tunggu Hadza jadi pejabat, terus kita bantu dia buat ngebenerin negara ini‘. Hal lain yang berkesan dari Hadza ini adalah kesabaran dia berteman sama saya, pasalnya saya sering minta bantuan akademis yang kadang-kadang agak ilegal, khususnya di semester-semester awal, mungkin karena saya se-liqo sama dia.

Setengah Aul Setengah Bukan

Setengah Aul Setengah Bukan

Setelah Hadza, ada Aul (alias Owlie, alias Ummu Musthofa, alias ‘Peniup Buhul-Buhul). Pertama kenal, kalau tidak salah pertama kenal waktu ospek Fakultas. Dia punya kemampuan khusus meramal dan memprediksi masa depan dengan meniup buhul-buhul. Penjelasan kenapa dia bisa jadi sahabat saya mungkin lewat program Darahrurat kami. Bersama teman-teman yang lain, kami jadi penghuni tetap UPTD RSUP Sardjito di tahun-tahun awal kuliah kami. Anak lurah yang satu ini sangat kesepian, sehingga dia sering berkeluyuran makan sendirian dan kemudian mengirim chat yang mengajak kami makan di tempat dia makan. Strategi bagus untuk para ahli wacana macam anggota grup ini. Aulia ini biasanya jadi jangkar moral di pertemanan kami alias sering negor kalau kami sudah sedikit kelewatan.

Nyi Fara

Nyi Fara (Muka Disamarkan)

Setelah Aul, ada Fara (alias Nyi Farha, alias ‘Disitu Kadang Saya Merasa Sedih’). Teman Buddy System saya yang baru ingat kalau kita se-buddy belakangan setelah lama berteman. Nona satu ini adalah korban kejahatan saya dan Bara, yang lucunya, kalau kita makan bareng selalu duduk di antara saya dan Bara. Fara ini juga anggota Darahrurat walaupun setiap donor darah dia selalu pingsan (disitu kadang saya merasa sedih) karena berat badannya kurang. Dengan badan sekecil kurcaci dia masih punya nyali besar (atau nekat) donor darah juga. Sekarang dia harus menunda perkawinannya akibat pengabdian di Pesantren Nurul Syahwat.

Mascodet dari Sisi Non-Codet

Mascodet dari Sisi Non-Codet

Ada Fara berarti ada Bara (alias Mascodet, alias Grandestatista). Entah kenal di mana dan gimana ceritanya bisa jadi teman. Yang pasti sepanjang perjalanan persahabatan kami, sudah banyak hal gila yang kami jalani bersama, mulai jalan-jalan tanpa rencana ke Bromo (Brokeback Mountain) sampai menghentikan lift di tengah lantai 3 dan 4 kampus. Mas yang satu ini memang cerdas, selalu jadi andalan untuk pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan pikiran walaupun terkadang suka susah dicari karena suka menghilang secara misterius. Berkat si Bara, saya punya pengalaman tidur di pesantren dan dibanguni dengan toa beberapa jam setelahnya. Di akhir-akhir masa kuliah Bara membantu saya di FLP UGM selama dua tahun belakangan. Sejak saat itu kami jadi partner in crime.

15766574563_d317ae011a_k

Nyuy (yang Histeris di Tengah)

Setelah bara ada Nuri (alias Nyuy, alias Mak Rempong). Kenal di Komahi Divisi Internal. Mulai jadi sahabat di program Darahrurat, putri dari keluarga ningrat feodal satu ini adalah anak yang paling aktif organisasi cewek-cewek lainnya. Kita pernah bersama di BEM KM 2012 dan Dema Fisipol. Hobinya tertawa, warna kesukaannya merah jambu. Selalu jadi orang yang pertama ketawa jika ada lawakan dan selalu jadi orang pertama yang ngamuk kalau bercanda kelewatan.

Koh Felix, Tionghoa sebelah Kiri

Koh Felix, Tionghoa sebelah Kiri

Anggota terakhir kami adalah Koh Felix (alias Felix Bumbox). Pertama kenal di Internal Komahi, penggemar Korea yang satu ini punya hidup yang paling menarik dibandingkan yang lain dalam beberapa tahun terakhir. Dia berani ambil keputusan yang sulit untuk dibayangkan oleh orang lain. Manusia satu ini sangat setia dan sensitif (dalam arti positif) kalau sudah jadi teman. Walaupun sering dirundung masalah, Koh Felix selalu move on dari masalah dan jalan terus menghadapi tantangan hidup. Hadirnya Koh Felix, membuat lingkaran persahabatan ini jadi lebih interracial dan diverse karena candaan rasis kami tidak diambil serius.

– – –

Nah tulisan ini berakhir kepada pertanyaan yang senantiasa ditanyakan orang kepada saya, “kenapa kamu jadi gemuk gitu di Jogja?“. Mungkin tak ada hubungannya, tapi saya percaya ini jawabannya: “karena sahabat saya hebat-hebat, jadi saya hidup bahagia di Jogja. Tanpa mereka saya gak akan sebahagia ini. Apalagi mereka suka makan-makan di waktu malam.”

Ya, karena sahabat saya hebat-hebat 🙂